Tampilkan postingan dengan label Attribute For Captain Jack Band. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Attribute For Captain Jack Band. Tampilkan semua postingan

Asumsi Kita Tentang Musik Rock


Pernahkah Anda mendengar sebuah kata yaitu, “Suicide Solution” ? Kata ini seharusnya tertuju pada Anda yang belum mendengar atau mengerti definisi dari kata Rock, definisi dari kata Rock sendiri adalah “Batu Karang” yang mempunyai makna keras atau mampu bertahan dari hantaman badai, dan Rock juga merupakan kata universal dari berbagai unsur aliran misalnya Metal atau Heavy Metal, Punk, Rock and Roll serta Underground dan bagian-bagian tersebut mempunyai unsur-unsur yang lebih spesifik lagi misalnya Underground yang merupakan wadah dari Black Metal, Death Metal hingga Metal Hardcore.

Masyarakat kita pada saat ini telah mengasumsikan bahwa sesuatu yang berhubungan dengan musik yang beraliran keras atau Rock umumnya telah mengarah pada sesuatu yang buruk yang selalu identik dengan Free Sex, Drugs, serta Crime atau tindakan kriminal yang menuai pertentangan dengan norma-norma atau peraturan yang berlaku di lingkungan masyarakat kita. Ya ! tidak menutup kemungkinan presepsi tersebut ada benarnya juga karena pada tahun awal musik tersebut bergema banyak band-band yang mengeksploitasi gaya Rock tersebut dengan berprilaku buruk atau menentang dengan peraturan yang ada.

Sebenarnya musik yang bernuansa keras itu ada karena ekspresi emosi yang ditandai dengan adanya atribut gaya seperti menggunakan anting-anting atau piercing di telinga, jeans robek di paha serta tatto di badan hal tersebut tergantung dengan individu masing-masing yang tidak perlu di artikan merusak atau menentang norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Sebuah pernyataan yang diungkapkan oleh Nick Hipa gitaris salah satu band Metal Hardcore dunia yakni AILD atau dikenal dengan “AS I LAY DYING” mengatakan : “Saya menyukai jenis aliran hardcore jenis ini adalah jenis musik emosional yang mana bisa mengontrol emosi saya tanpa merusak dan merugikan sesuatu atau orang lain.”

Lirik lagu dari band-band rock umumnya bukan berarti tidak mempunyai makna atau tanpa inspirasi justru sebaliknya mereka cendrung mengambil inspirasi tersebut dari pengalaman pribadi seperti pengalaman rohani atau spiritual tidak juga terlepas dari cinta tetapi mereka mengorientasikan bukan untuk satu objek saja melainkan banyak objek.

Seperti halnya aliran punk yang merupakan simbol dari pemberontakan terhadap penindasan bagi kaum Marjinal atau anak remaja yang ingin bebas tanpa mengabsolutkan dirinya terhadap kebebasan yang tidak terbatas melainkan bebas mengekspresikan dengan apa yang dimiliki tanpa mengeksploitasi demokrasi ke hal-hal yang berbau negatif.

Selayaknya kita memberikan apresiasi terhadap salah satu band punk lokal yang pro terhadap kaum Marjinal (kaum pinggiran yang terbuang atau yang jarang diperhatikan) sebagai pembela yaitu MARJINAL PREDATOR. Di bangsa kita ini musik yang notabene beraliran keras jarang di hargai atau jarang terpublikasikan karena masih terpengaruh oleh persepsi masyarakat yang berlebihan sehingga banyak band-band harus turun gunung atau merubah aliran yang awalnya keras menjadi lembut hal ini juga di picu dengan adanya tuntutan Label yang hanya ingin penjualan hasil dari karya band-band tersebut laku keras di pasaran.

Jadi apakah band Anda adalah band yang turun gunung hanya karena ingin mencari materi serta popularitas ??? Saya berharap Anda mempunyai komitmen untuk survive dengan hal yang kita bahas ini. Terima kasih banyak sebelumnya mohon saran dan kritiknya atau Anda mempunyai sesuatu yang lebih dengan hal yang kita bahas ini, saya berharap Anda bisa mengekspresikan pengalaman atau sesuatu yang berhubungan dengan argumentasi ke dalam tulisan agar nantinya dapat menjadi referensi pengetahuan bagi orang lain.

SALAM ROCK !!!!!

Innerbeauty Sang Rockers "Captain Jack"

Grup musik rock dari Jogja Captain Jack mempunyai niat luhur mengajak para Monster Jackers (fans fanatik Captain Jack) untuk berani menolak alkohol, suatu aksi simpatik yang berlawanan dengan image bahwasanya para rockers di manapun tidak akan bisa dipisahkan dengan minuman alkohol. Kampanye dahsyat dari Jogja yang istimewa.

Captain Jack yang terbentuk di Yogyakarta pada tanggal 4 Desember tahun 1999, lewat penyatuan hati dan emosi serta pengalaman hidup dan keinginan, yang menuntun lima anak muda Jogja kelahiran Pontianak, ke dalam dunia seni yang sarat akan kreativitas.

Album pertamanya berjudul “Unmindless” diluncurkan pada tahun 2004 dengan dua hits single-nya berjudul “Pahlawan” dan “Siapa Aku”. Kemudian pada tahun 2005 keluar album kedua berjudul “Somethink About” dengan tiga hits single yakni “Sempurna”, “Pahlawan” dan “Munafik”.

Album ketiga dirilis pada tahun 2008 dengan tiga hits single masing-masing berjudul “Hati Hitam”, “Pengkhianat” dan “Postcard Untuk Tuhan”. Kemudian di tahun 2010 meluncurkan album kompilasi dengan single-nya berjudul “Musuhku Dalam Cermin”.

Lewat lagu “Sempurna”, band dengan personil Momo (vocalist dan gitar), Zuhdil H.K. (gitar), Novan Maltuvanie (bass dan scream), Surya Ismeth (synthesizer, keys dan backing vocal) dan Andy “Babon” Irfanto (drum dan percussion) sempat merajai track tangga lagu radio-radio di Yogyakarta dan Pontianak serta beberapa kota-kota lain di Indonesia.

Lagu yang diambil dari album kedua tersebut dirilis oleh Universal Music Indonesia. Lagu “Sempurna” bernuansa segar dengan beat-beat yang catchy dalam baluran rock kental ala Captain Jack membuat musiknya semakin berwarna dan pantas untuk disimak.

Tema-tema lagu kreasi Captain Jack sarat dengan nada perlawanan sebagai ciri khas, dengan lirik-lirik pedas curahan batin dalam luapan kemarahan akibat keadaan yang ada.

Kampanye untuk berani menolak alkohol tercantum dalam lirik salah satu lagu dari album keempat, album terbaru yang dirilis tanggal 12 Oktober 2012 dengan single berjudul “Sadar Lebih Baik”.

Peluncuran album keempat tersebut ditandai dengan direct selling pada tanggal 12 hingga 14 Oktober di tiga kota yakni di Jogja, Solo dan Semarang, bekerjasama dengan Mahakarya Incorporated.

Dalam album keempat itu, Captain Jack menyelipkan kampanye mulia, mengajak untuk berani berubah, di antaranya kampanye tentang perempuan Indonesia untuk menjadi sesuatu yang lebih, di bawah budaya patriaki. Selain itu, kampanye tentang perburuhan yang sekarang telah menjurus pada perbudakan.

Yang paling spektakuler adalah ajakan untuk berani menolak minum-minuman yang mengandung alkohol, mengingat pandangan dari sebagian masyarakat yang skeptis terhadap Monster Jackers yang kerap mabuk tatkala menghadiri konser idola mereka dan dampak yang diakibatkan adalah munculnya perkelahian dan keonaran.

Bersamaan dengan peluncuran album baru berjudul “We Are Monsters”, juga dilakukan movie screening film dokumenter dengan judul yang sama, berdurasi 70 menit.

Film yang mengisahkan perjuangan Captain Jack berikut ungkapan hati para Monster Jackers, serta acungan jempol dari para pengamat perkembangan musik Indonesia atas kiprah musisi asal Jogja tersebut, memerlukan waktu pembuatan hampir dua tahun, dengan dukungan sepenuhnya oleh Devri Dinarto, film-maker professional dari Jakarta.

Review : PSIKOPAD!#7: EXPLOSION

28 May 2012
PSIKOPAD alias Pentas Seni Komunitas Padmanaba adalah salah satu event tahunan yang rutin diadakan SMA Negeri 3 Yogyakarta sejak tahun 2006. Dengan jargon ‘EXPLOSION’ yang merupakan akronim dari ‘extreme passion with youthful spirit and incredible creation’, PSIKOPAD yang ketujuh ini juga merupakan acara puncak Lustrum Padmanaba yang ke-70, dengan Captain Jack, Gugun and Blues Shelter, dan Superman Is Dead sebagai bintang tamu utama.

PSIKOPAD Explosion yang digelar di Stadion Kridosono (26/5) lalu dibagi menjadi dua sesi, sesi sore dan sesi malam. Sesi sore dimeriahkan oleh kompetisi dance dan kompetisi band, dan penampilan Padzband#10, band kebanggaan Padmanaba yang berisi para siswa aktif yang memiliki skill musik yang mumpuni. Sesi sore ditutup dengan penampilan dari band indie kenamaan Yogyakarta, Captain Jack, yang selalu bisa mengguncang suasana bersama para Monster Jacker. Tidak heran jika PSIKOPAD selalu mengundang Captain Jack dalam empat event terakhirnya.

Momo Captain Jack (feat) Pesakitan - Cacat


Captain Jack merupakan band indie asal kota Yogyakarta yang mengusung musik rock. Meski banyak juga sebagian orang yang sering mengira bahwa Captain Jack itu mengusung musik Hard Core. Memang Musik Rock dan Musik Hard Core itu hampir tipis sekali perbedaanya. Momo sebagai vocalis Captain Jack mengutarakan sendiri bahwa musik yang mereka gunakan adalah Musik Rock bukan Hard Core atau semacamnya.

Band yang bergenre Hard Core pun ada yang tertarik untuk bekerja sama dengan sang vocalis, yaitu Momo itu sendiri dalam sebuah lagu. Lagu tersebut sangatlah berbau Hard Core tetapi banyak dari fans Captain Jack yang biasa disebut Monster Jackers itu menjadi tambah fanatik dengan Captain Jack.

Inilah keseluruhan lirik dari lagu yang berjudul “Cacat” yang berkolaborasi dengan Pesakitan tersebut :

Susuri kembali jalan penuh cerca tanpa akhir pasti
Merangkak selami tatap ruang sadar luka jiwa
Semakin terjerat perasaan rendah
Terdiam menjerit hempaskan luka
Luka jiwa semakin meradang makian umpat diri raga lelah dicerca

Menelan makian
Berjalan hina

Reff :
Terdiam renungkan
Sendiri menyamarkan perih terkadang ingin sembunyi mengakhiri
Temukan jiwa yang membisu terhimpit luka di hati sangkal diri

Lelah memendam hati tersiksa
Kepedihan semakin erat mendekap sukma
Pandangi jiwa yang terbujur bisu pilu menahan luka

Reff :
Terdiam renungkan
Berdiri melarutkan luka hujatan terus mendera cerca raga
Luruhkan raga yang terlunta mendekap erat di jiwa pendam duka

Pandangi diri ruam meradang
Terus merangkak mencari temukan
(sosok) figur hina penuh luka
Telan makian berdiri bisu
Terus basuhi raga penuh luka
Caci cerca hina makian

Syair Akustik Captain Jack Band



Minggu, 2 Desember 2012 Captain Jack untuk pertama kalinya tampil perform dalam sebuah acara ulang tahun sebuah distro dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Momo dan Captain Jack yang biasa tampil tanpa baju, memakai celana pendek dan berpenampilan garang di atas panggung malam itu tampil dengan mengenakan jas mewah, celana panjang, dan sepatu. Tidak kalah dengan Momo, Surya Ismeth tampil layaknya sang master pianis. Sedangkan Zuhdil dan Novan yang biasa memainkan screaming juga tampil berbeda. Semua personil Captain Jack terlihat keren malam itu tanpa identik dengan penampilan rocker seperti biasanya. “Kami yang biasa tampil garang di depan kalian, melihat kalian di bawah entah itu moshing, headbang ataupun mosphit untuk pertama kalinya kami tampil berbeda seperti ini karna kami bebas untuk berbeda, kami bebas untuk tentukan pilihan.” kata Momo sesaat sebelum memulai perform.

Mendengar lagu akustikan yang dibawakan oleh Captain Jack secara langsung mungkin kita semua akan miris, merinding rasanya, lagu-lagu yang telah diaransemen ulang lagi itu dibuat seolah-olah menurut alur kehidupan yang nyata. Momo sendiri bahkan sempat menahan air matanya yang akan mengalir setelah membawakan lagu yang berjudul “Foto Kusam”.

Captain Jack memulai perform dengan membawakan lagu “Monoton”. Sebuah lagu yang dipersembahkan untuk kita yang merasa tidak nyaman dengan kehidupan yang begini-begini saja dan terus berulang-ulang setiap hari. Monoton diciptakan oleh Momo di sebuah halte busway di kota Jakarta. Ia melihat sebuah bentuk perbudakan modern di antara kerumunan orang-orang yang lalu-lalang bekerja.


Lagu kedua yang dibawakan adalah “Monolog Tak Terdengar”. Lagu ini memang jarang dinyanyikan oleh Captain Jack. Namun, lagu ini juga menyimpan suatu motivasi tersendiri buat kita agar menjadi seseorang yang bisa menjadi lebih kuat dalam memaknai hidup. “Curhat itu ‘BODOH’. Selesaikan masalahmu sendiri ! Dengan hanya mengeluh pada orang lain apakah bisa merubah suatu realita ?” seru Momo sebelum menyanyi. Ya, masalah yang kita hadapi memang tak semuanya dapat terselesaikan saat kita membicarakannya dengan orang lain karena orang lain sendiri belum tentu dapat merasakan apa yang kita rasakan. Inilah maksud dari sepenggal lirik Monolog Tak Terdengar tersebut. “Biarku pendam semua yang menyiksaku kan ku tanggung sendiri. Takkan ku bercerita kepada siapapun bahkan sahabatku.”

Di lagu ketiga ini Momo sempat menahan air matanya. “Foto Kusam”  sebuah lagu paling gelap dari seorang anak. “Apa yang kalian rasakan saat melihat tumpukan album masa kecil kalian yang mungkin sekarang sudah usang ? Mungkin kita sendiri rindu akan masa-masa itu. Namun, apa yang terjadi sekarang setelah kita tumbuh menjadi dewasa saat ini ? Di belakang kita ada musuh, di depan juga ada musuh yang siap menikam kita.” ujar Momo.

Band rock memang identik dengan drugs dan alkohol. Tapi, Captain Jack sendiri menepis anggapan dan persepsi ini. “Sadar Lebih Baik”, lagu keempat yang dipersembahkan bagi kita yang dikatakan masih dalam masa transisi. Sejak album keempat mereka dikeluarkan, untuk pertama kalinya Captain Jack menyanyikannya berbarengan dengan hits “Foto Kusam” di perform kali ini. Mereka mengajak kita para generasi muda agar menjadi lebih baik. “Kami mendengarkan suara-suara dari kalian. Aku yakin karena kedewasaan dan kesadaran kalian semakin berkembang dari hari ke hari, aku ingin kalian bersih tanpa sesuatu yang memabukkan saat melihat kita tampil di depan kalian,” kata Momo. Captain Jack dan Momo sendiri sejak lama telah mengkampanyekan hal ini di acara Radio Show TVOne. Meski realisasinya belum dapat diwujudkan oleh semua generasi muda tapi setidaknya Captain Jack sendiri sudah berpesan baik demikian kepada kita. Kita sendiri masing-masing lah yang merealisasikan perkataan dari Momo dan Captain Jack itu. Mau berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk, kembali kepada pribadi kita masing-masing.


Lagu kelima dan keenam ditutup dengan hits mereka “Dari Anakmu” dan “Hati Hitam”. Yang sedikit unik adalah 2 lagu ini yang biasa dinyanyikan dengan teriakan-teriakan Captain Jack dan kita sebagai Monster Jackers, kali ini dibawakan dengan suara lirih penuh ketenangan.  Melodi dan iramanya seakan-akan menghanyutkan kita dalam suasana ketenangan untuk memaknai lagu-lagu tersebut.

Teruslah berkarya Captain Jack ! Syair dan lantunan lagu dari kalian akan terus memaknai hidup kami !

Sebarkan Virus Positif Lewat Video Dokumenter


JOGJA – Band beraliran rock Captain Jack meluncurkan video dokumenter We Are Monster

Video berdurasi 70 menit itu diperkenalkan di Institut Francais Indonesia (IFI), Jalan Sagan, No. 3, Selasa (4 Desember 2012) dan bercerita soal sepak terjang mereka dalam menapaki karier.

Sebelumnya pada pertengahan Oktober lalu, band tersebut meluncurkan album terbaru mereka dengan single andalan Kupu-Kupu Baja.

We Are Monster disutradarai oleh Devri Dinarto, yang selama ini kerap memproduksi film dokumenter. Video ini terdiri dari bermacam-macam adegan Captain Jack saat konser di sejumlah kota hingga pandangan para personel dalam memaknai musik rock. Momo, vokalis Captain Jack menuturkan video dokumenter itu tidak hanya merangkum perjalanan mereka selama 13 tahun bermusik melainkan sebuah pemberian informasi terhadap Monster Jackers (sebutan para fans Captain Jack) yang selama ini tidak sepenuhnya diketahui. “Selama ini orang-orang hanya tahu kami lewat lirik kami ataupun dari artikel-artikel dan internet,” katanya.

Menurut Momo, video dokumenter ini juga diharapkan mampu mengajak Monster Jackers untuk membangun sebuah kebebasan yang positif. Terlebih mereka mengklaim drinya sebagai sebuah band yang tidak menggunakan alkohol dan obat-obatan terlarang. “Ini penting karena selama ini band rock selalu identik dengan minuman keras maupun obat-obatan terlarang,” katanya.


Momo mengaku pilihan bersama personel lainnya untuk tidak menggunakan alkohol dan obat-obatan terlarang itu telah dilakukan sejak 7 tahun silam. Langkahnya itupun terkadang mengundang cibiran dari musisi rock lainnya. “Tapi kami nggak terlalu memikirkan hal tersebut,” katanya.

Materi video dokumenter tersebut sejatinya telah dipersiapkan sejak tahun 2009 silam. Pada waktu itu, Devri Dinarto, sang sutradara kerap mengikuti perjalanan Captain Jack saat konser. Ia juga melakukan wawancara terhadap seluruh personel Captain Jack yaitu mulai dari Momo (vokalis), Surya Ismeth (keyboard/synth), Zuhdil (gitar), Novan (bass/screaming) dan Andi Babon (drum). Tidak hanya itu, ia juga melakukan wawancara dengan para fans, wartawan, hingga musisi papan atas Indonesia hingga pihak-pihak yang berseberangan dengan Captain Jack. Dalam proses pengerjaan terebut, Devri mengaku menggunakan bujet yang terbilang minim untuk ukuran pengerjaan sebuah film dokumenter. “Dana produksinya hanya setengah dari harga Blackberry,” bebernya.

We Are Monster, imbuh Devri tidak akan dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. Video tersebut dilepas secara bebas dengan memasukkan di Youtube agar semua orang bisa menikmatinya. “Sejak awal diproduksi kami memang berencana hanya untuk memasukkannya di Youtube agar mereka tahu siapa Captain Jack sebenarnya,” ujarnya.

Indonesia Tanpa Alkohol

Radar Jogja, Kamis 8 November 2012

EKSPRESI CORNER


Enggak betul jika menilai musisi rock itu selalu dekat dengan miras (minuman keras). Apalagi band rock asal Jogja, Captain Jack. "Bahkan kita saat ini lagi kampanye untuk Indonesia Tanpa Alkohol," tegas Novan, sang bassist.

Captain Jack yang terdiri dari Momo (vocal-gitar), Zuhdil (gitar), Novan (bass), Surya Ismeth (keyboard) dan Andi Babon (drum) dalam album terbarunya mengajak para pendengar, khususnya generasi muda untuk menjauhi alkohol. Kampanye dengan tema "Indonesia Tanpa Alkohol" mereka hembuskan karena prihatin dengan perkembangan pemuda zaman sekarang. Bahkan, di album terbarunya Captain Jack membuat lagu spesial, "Sadar Lebih Baik". Inspirasinya dari pengalaman pribadi. Masalah yang aku hadapi enggak selesai, tapi malah jadi lebih ruwet. Dan ternyata Sadar Itu Lebih Baik," ujar Novan sang pencipta.

Ismeth menambahkan, Captain Jack getol kampanye "Indonesia Tanpa Alkohol" karena merasa trenyuh saat melihat sekumpulan pemuda yang datang nonton konser dalam keadaan mabuk. Akhirnya mereka enggak menikmati musiknya, tapi malah bikin onar. "Alkohol jadi gaya hidup yang membuat sesuatu jadi enggak jelas. Ini misi terbesar kami. Harapannya, teman-teman Monster Jackers (sebutan untuk fans Captain Jack) yang masih mengkonsumsi alkohol , syukur-syukur bisa berhenti," tambah Zuhdil.

Bahkan Captain Jack punya komitmen enggak bakal mau manggung di tempat yang menjual minuman beralkohol.
Captain Jack - Aksi Mengejar Mimpi

Captain Jack - Aksi Mengejar Mimpi

Captain Jack bukan lagi nama, bukan lagi logo keren, atau band - ‘Captain Jack is our home’ 

Mengikuti perjalanan karir Captain Jack seperti membuka sebuah buku komik dengan banyak petualangan seru dari sang Captain yang tidak henti-henti membuat penasaran pembaca. Namun berbeda dari kisah bajak laut Jack Sparrow yang selalu bermasalah di setiap tempat dia terdampar, Captain Jack menyajikan petualangan mengejar mimpi.

Aksi Mengejar Mimpi
Mereka tumbuh dewasa dengan mengalami beragam dinamika dan perubahan, baik karena faktor internal maupun eksternal. Ibarat baja stainless, sayap pelantun Kupu-Kupu Baja juga telah ditempa oleh palu baja selama 13 tahun lamanya, dan tempaan itulah yang menjadikan mereka seperti sekarang. Proses yang tidak bisa dibilang singkat dalam menyatukan hati, emosi, pengalaman hidup, serta keinginan untuk berjalan bersama di dalam proses kreativitas dunia seni, akhirnya menjadi alasan bagi Andi Babon, Surya Ismeth, Zuhdil H.K, Novan Maltuvanie, dan Momo untuk bersama-sama mengejar mimpi mereka. Dan kurang lebih telah terhitung waktu 13 tahun sejak mereka memutuskan untuk menjadikan Captain Jack mimpi nyata bagi mereka di tahun 1999.


“Empat orang dari kami sudah berteman sejak lama. Kalau bisa dibilang frontal, dari umur dimana kami semua masih ngompol kami sudah saling mengenal sampai kemudian kami beranjak jadi pemuda-pemuda yang marah dengan situasi sekarang. Coba, siapa yang tidak terpancing marah dalam situasi negara kita sekarang?” ujar Momo cs.

Hingga pada akhirnya, pemuda-pemuda itu memutuskan untuk hijrah dari sebuah kota kecil di Kalimantan ke Yogyakarta. Banyak hal baru mereka temukan dan hadapi di kota yang terbilang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Namun tanpa sengaja pula mereka bertemu dengan satu orang teman baru dengan kesamaan cita-cita, visi, dan impian. “Dan pastinya dia juga suka marah-marah seperti kami. Jadi marah berjama’ah kita semua di Jogja,” lanjut Novan sambil tertawa.

Banyak rencana di kepala yang seakan sudah tidak lagi terbendung. Emosi yang tercampur membuat mereka ingin “meracuni” lebih banyak orang untuk bisa lebih marah pada situasi yang makin lama kian memburuk sehingga “racun” serta “kemarahan” yang mereka sebarkan mampu memancing orang-orang untuk berbuat sesuatu yang lebih baik.  “And finally, here we are…Captain Jack...!!!!!”

“We aren’t the fans of Jack Sparrow not even Captain America ! Kami pun merasa tidak ada arti khusus sebenarnya mengapa kami memilih nama “Captain Jack”. Kami tidak punya filosofi apapun dengan nama yang kami pakai. Waktu itu juga kami hanya merasa nama jelek ini benar-benar datang entah dari mana, namun terdengar cukup aneh dan sekilas mampu mencuri perhatian orang. Itu saja yang kami rasa. Lagipula, apalah arti sebuah nama ?” lanjut Andi yang lebih familiar dipanggil Babon oleh rekan-rekannya.

Andi Babon juga melanjutkan bahwa saat itu mereka cukup optimis dengan apa yang mereka punya, terutama logo. Bagi mereka, logo Captain Jack itu keren, jadi walau namanya aneh atau dianggap terlalu kanak-kanak, juga tidak terlalu mereka ambil pusing. “Just let’s stick up and go with the flow, who care with people’s negative mind anyway”.